Share it

Senin, 08 Agustus 2011

Wonokerto Kulon Desa Nelayan di Pekalongan



LATAR BELAKANG
Lingkungn hidup merupakan sarana dimana manusia berada dan sekaligus menyediakan kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkan kebutuhannya. Dengan demikian setiap kegiatan dan hasil dari pengolahan lingkungan hidup sangat tergantung kepada kebudayaan yang dimliki oleh suatu masyarakat. Sesuai dengan lokasi dan kondisi fisiknya, penduduk di sekitar pantai memanfaatkan perairan laut menjadi sumber penghidupan sebagai nelayan. Sampai saat ini, sebagian nelayan masih menggunakan teknologi tradisional, sehingga banyak atau sedikitnya hasil yang mereka peroleh tergantung sekali terhadap cuaca,arus laut,gelombang,dan sumber alam itu sendiri.
Ada dua alasan yang menyebabkan mengapa nelayan yang menggeluti bidang kerja perikanan laut dan berdiam di komunits pantai, menjadi golongan penduduk yang memerlukan perhatian khusus di indonesia. Pertama, Indonesia merupakan sebuah negara maritim yang mempunyai garis pantai kurang lebih 80.000 km, sama dengan jarak antara sabang dan merauke, dengan sepanjang pantainya tersebar ratusan desa yang dihuni oleh masyarakat nelayan. Kedua, perikanan laut merupakan bagian dari sektor pertanian. Menurut angka statistik tahun 1989,55,6% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia bekerja di sektor pertanian.
HIPOTESA
Desa Wonokerto kulon mempunyai potensi di sektor pertanian dan sektor perikanan. Karena desa tersebut terletak di dekat pantai dan tanah atau kondisi alamnya berupa tanah pertanian dan daerah pantai. Dibandingkan subsektor lain di sektor pertanian,perikanan,khususnya perikanan laut mempunyai potensi yang lebih unggul untuk dikembangkan karena kondisi alamnya. Di Desa Wonokerto kulon,Peningkatan produksi hasil tangkapan menghadapi masalah kurang tersedianya infra struktur utama dan penunjang untuk memeperlancar kegiatan produksi dan efisiensi serta kualitas Sumber daya manusia yang ada di Desa wonokerto. Sehubungan dengan itu, masyarakat Desa Wonokerto kulon masih tergolong penduduk yang kurang mampu, karena kebutuhan hidup mereka bergantung pada panen ikan atau sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan.
MASALAH
Sampai saat ini belum banyak penelitian-penelitian sosial dengan hasil yang menonjol yang berbicara tentang masyarakatnelayan di indonesia, apalagi yang sudah diterbitkan untuk umum. Berdasarkan kenyataan tersebut,disusunlah buku penelitian ini.
RUANG LINGKUP dan PERSOALAN
Dibandingkan subsektor lain di sektor pertanian, perikanan, khususnya perikanan laut mempunyai potensi yang lebih unggul untuk dikembangkan. Dari besarnya potensi sumber daya ikan ini baru sekitar 20 % yang telah dimanfaatkan. Peningkatan hasil produksi tangkapan menghadapi masalah kurang tersedianya infra struktur utama dan penunjang untuk memperlancar kegiatan produksi dan efisiensi serta kualitas sumber daya manusia.
Disamping ini dukungan kegiatan hilir yang berupa kegiatan pasca panen yang mencakup pengolahan, distribusi, dan pemasaran masih belum berkembang. Sebagian kegiatan perikanan masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan lokal dengan perilaku konsumen yang konservatif pada satu dua jenis komoditas tradisional khususnya prefensi yang sangat dominan pada ikan segar.
Sehubungan dengan itu, penelitian ini akan dilakukan di sebuah desa nelayan di Jawa Tengah yaitu Desa Wonokerto Kulon, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Ruang lingkup penelitian ini meliputi struktur sosial masyarakat desa nelayan, pemggolongan nelayan, pembagian kerja, hubungan kerja, bagi hasil, perbedaan tingkat kemakmuran di dalam masyarakat nelayan, pola kerja nelayan di masing-masing jenis kapal atau peralatan, dan pola kehidupan rumah tangga masing-masing setiap harinya.
PENGAMATAN LOKASI DAN LINGKUNGAN ALAM DESA WONOKERTO KULON
Kecamatan Wiradesa
1. Lokasi dan Kondisi Lingkungan
Kabupaten Pekalongan terletak pada 6’51 Lintang Selatan dan 109’40 Bujur Timur. Secara administratif, kabupaten kabupaten ini termasuk wilayah propinsi Jawa Tengah, yang letaknya antara kabupaten batang. Kabupaten Pekalongan juga merupakan kabupaten penghubung antara Jawa Barat dan Jawa Tengah melalui bagian utara pulau, disamping itu juga terkenal dengan industri kain batik yang cukup luas pemasarannya.
.
Kabupaten Pekalogan memliki luas tanah 83.558,000 Ha, yang meliputi 16 buah kecamatan, salah satunya adalah kecamatan Wiradesa. Luas kecamatan wiradesa 2741,409 Ha, secara admnistratif terdiri atas 22 desa, 5 kelurahan, 74 dusun, 115 RW dan 416 RT. Penduduk Kecamatan Wiradesa berjumlah 83.179 orang, terdiri 40.494 laki-lki dan 42.230 perempuan atau 16.336 kepala keluarga. Kepadatan Penduduknya meliputi 1.607 jiwa tiap km. Seperti pada umumnya masyarakat pedesaan di indonesia, penduduk kecamatan wiradesa kebanyakan bekerja di sektor pertanian. Namun, karena letak desa dekat pantai,maka banyak pula penduduk yang bekerja sebagai nelayan. Jumlah ini merupakan yang terbanyak jika dibandingkan dengan kecamatan lain di kabupaten Pekalongan yang juga terletak di dekat pantai.
2. Asal – usul dan latar belakang sosial budaya desa Wonokerto kulon
Menurut ceritera orang setempat, nama desa ini berasal dari dari Babadan Gambiran yang merupakan salah satu dukuh di desa Wonokerto kulon. Dulu, Wonokerto kulon berupa hutan yang dibabat dengan alat khusus arit kurdi terancangan. Yang mempelopori pembabatan ini adalah 2 orang kyai. Salah seorang meningal dimakamkan di desa gambiran. Yang seorang lagi di makamkan dekat sungai Mrican. Karena dekat muara sungai, tempat ini dinamakan muara lawas.
3. Sistem kekerabatan penduduk desa Wonokerto kulon
Sistem Kekerabatan di desa wonokerto Kulon umunya sama dengan sistem kekerabatan suku bangsa Jawa. Mereka mengikuti prinsip bilateral, yaitu menghubungkan kekerabatan melalui garis ayah dan ibu.disamping keluarga inti juga mengenal keluarga diluar keluarga inti yang disebut sanak sedulur yaitu semua orang yang ada hubungan inti kekerabatan dengan ego sampai derajat ketiga.
PENGAMATAN SISTEM PRODUKSI DAN DISTRIBUSI
A. Prasarana dan sarana Perikanan
Nelayan desa Wonokerto Kulon dalam mencari ikan biasanya menggunakan perahu (sopek) dengan berbagai alat tangkap ikan yang mungkin sama atau berbeda dengan daerah nelayan lainnya di Indonesia. Jumlah perahu motor (sopek) yang terdapat di Desa Wonokerto Kulon berdasarkan data Monografi Desa Bulan Juni 1995 adalah 63 buah dengan kekuatan masing-masing 16 PK. Jenis alat tangkap ikan di Desa Wonokerto kulon sangat tradisional sekali sehingga hasil produksi nelayan di daerah ini sangat kecil sekali. Di Desa Wonokerto juga terdapat tempat pelelangan ikan, tetapi yan aktif hanya satu terletak di tepi pantai, agar dekat dengan muara dan untuk meningkatkan produktifitas nelayan. Menurut responden, tempat pelelangan ikan kurang dapat memberikan bantuan kepada nelayan, meskipun berupaya menjaga kestabilan harga ikan ternyata harga tetap jatuh apabila musim panen tiba.
B. Proses Produksi Ikan
Proses produksi ikan di Wonokerto Kulon akan dimulai dari persiapan melaut, proses menangkap ikan di laut sampai kembali lagi ke darat dan biasanya merapat ke darat sekitar pukul 12.00-13.00. Mereka akan memperbaiki jala yang rusak atau bolong kemudian menjemurnya lalu menatanya dengan rapi. Biasanya pada saat melaut akan terjadi kerja sama antara para anak buah kapal untuk mendapatkan ikan yang banyak. Para nelayan desa Wonokerto Kulon tidak pergi melaut pada hari jumat karena tradisi yang mereka anut.
PENGAMATAN KEHIDUPAN dan KEGIATAN RUMAH TANGGA NELAYAN DESA WONOKERTO KULON
Di desa Wonkerto Kulon hanya terdapat juragan kecil yang memiliki kapal motor kecil dengan alat tangkap tradisional. Beberapa dari juragan ini memperoleh perahu dan peralatannya dari pekalongan. Adapula yang memperoleh warisan dari orang tuanya dulu. Para juragan ini mempunyai kehidupan yang biasa-biasa saja, dalam arti tingkat sosial ekonominya tidak jauh berbeda dengan nelayan biasa yangtidak memiliki perahu. Ini dapat terlihat dari keadaan rumah tempat tinggal.
Pendapatan para juragan pemilik kapal sulit dihitung secara pasti, karena erat hubungannya dengan hasil tangkapan yang diperoleh para nelayan. Juragan yang mempunyai satu buah kapal pendapatannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lain halnya dengan juragan yang mempunyai tiga buah kapal, pendapatannya relatif lumayan; selain dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, dia juga dapat memperbaiki rumah dan membeli peralatan rumah tangga.
Lingkugan alam desa Wonokerto Kulon menyediakan sumber penghidupan pada sektor kenelayanan. Dari sektor ini timbul pula usaha-usaha lain yang masih ada hubungannya dengan kenelayanan seperti pedagang ikan, pembuat ikan asin, ikan asap atau ikan pindang. Selain itu bagi yang memiliki modal mereka menjadi pedagang agen yang membeli dalam jumlah besar. Kemudian diambil lagi oleh pedagang atau pengecer dan kadang-kadang mengolahnya dulu menjadi ikan asin, pindang, ataupun asap.
Sebagian besar kepala keluarga sudah pergi melaut sebelum subuh. Bagi mereka yang tidak melaut, seperti pedagang memulai kegiatan nya di tempat penampungan ikan untuk memperoleh barang dagangan dan mengadakan kegiatan transaksi dengan para juragan ataupun dengan pedagang yang akan menjual ikannya secara eceran.
PENGAMATAN TENTANG KEBUTUHAN dan CARA PEMENUHAN KEBUTUHAN MASYARAKAT DESA WONOKERTO KULON
Seperti keluarga nelayan lainnya, para pedagang ikan berusaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi pedagang agen yang memiliki modal besar akan memperoleh keuntungan yang besar akan memperoleh keuntungan yang besar pula tanpa mengeluarkan tenaga hanya kepandaian mengatur strategi denagn para nelayan dan pedgang ecer.
Bagi pedagang ikan yang bermodal sedang, keuntungan yang diperoleh tidak begitu besar. Biasanya hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Kadang dapat pula untuk membayar biaya sekolah anak. Para pedagang ini umumnyaadalah para istri nelayan yang hanya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga atau menambah penghasilan keluarga.
Untuk keperluan lainnya seperti penduduk yang sakit, cukup berobat ke Puskesmas karena biayanya murah. Begitu pula untuk memenuhi kegiatan kemasyarakatan seperti sumbangan bila tetangga ada yang hajatan atau kemalangan masih dapat diatasi semampunya dari penghasilan suami dan istri tersebut.
PENGAMATAN BUDAYA KERJA NELAYAN DESA WONOKERTO KULON
Desa Wonokerto Kulon yang terletak di tepi pantai laut Jawa, sebagian besar penduduknya bekerja dalam dalam bidang kenelayanan. Meskipun sebagian kecil bekerja di bidang lain, namun mereka pernah bekerja di bidang kenelayanan atau perikanan.
Dalam usaha kenelayanan maupun berdagang, penduduk desa Wonokerto Kulon melibatkan anggota keluarga yang sudah cukup usia yaitu suami, istri, anak-anak yang sudah cukup umur, adik, ipar dan sebagainya.
Untuk membantu menambah penghasilan, istri nelayan bekerja sebagai buruh batik, berdagang ikan, membuat gesek ikan, pindang ikan, dan panggang ikan. Dengan demikian timbullah beberapa jenis mata pencaharian tambahan dari kalangan penduduk. Di kalangan masyarakat nelayan di desa Wonokerto kulon kebiasaan melaut untuk mencari nafkah ditempuh jauh berpuluh-puluh kilometer bahkan smapai beratus-ratus kilometer. Keuletan mereka didukung oleh keinginan untuk memperoleh hasil sebanyak-banyaknya, untuk keluarga. Ada perasaan bangga bekerja sebagai nahkoda apalagi saat mendapat banyak ikan dan terjual cukup mahal. Mengingat betapa berat dan kerasnya perjuangan hidup di laut mencari nafkah, setiap nelayan berharap anaknya kelak tidak menjadi nelayan. Dunia kenelayanan tidak diperkenalkan kepada anaknya. Bekerja sebagai nelayan terapung-apung di laut selam berhari-hari. Seorang nelayan yang bekerja sebagai anak buah kapal merasakan bahwa menjadi nelayan itu sangat berat dan melelahkan.
HASIL AKHIR (KESIMPULAN)
Dari data Monografi Dinamis desa Wonokerto kulon bulan November 1995, jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan tercatat sebanyak 2078 orang atau sekitar 400 kepala keluarga. Sebagian jumlah tadi bekerja di kotamadya Pekalongan dan sebagian tadi bekerja di Wonokerto Kulon.
Nelayan yang bekerja di kapal-kapal milik toke mempunyai kehidupan yang lebih baik. Kondisi ini terjadi karena umumnya kapal-kapal motor milik mote berukuran besar dan mempunyai peralatan penangkap ikan yang modern. Masa melautnya berkisar antara 20 hari sampai 1 bulan. Dan hasil yang dicapai sangat besar sekitar 100 ton ikan.
Nelayan lain yang mempunyai kehidupan lebih baik,adalah nelayan yang mempunyai perahu sendiri. Mereka juga mempunyai ketrampilan khusus dan istrinya mempunyai usaha sampingan. Mereka dapat menyisihkan uang hasil jerih payah untuk ditabung atau disimpan. Umumnya mereka tidak menginginkan anaknya menjadi nelayan juga. Dengan tabungan hasil kerja kerasnya, mereka berusaha menyekolahkan anaknya kependidikan yang lebih tinggi. Bila tabungannya cukup untuk modal, mereka akan beralih pekerjaan menjadi pedagang atau menjadi juragan perahu seperti para toke.
Para nelayan yang kehidupannya kurang baik, umunya tidak mempunyai ketrampilan apapun. Di kapal penangkapan ikan mereka hanya menjadi anak buah kapal saja, yaitu kedudukan yang paling tiak menguntungkan, karena dalam pembagian hasil tangkapan mereka itu memperoleh bagian yang paling kurang. Selain itu istri-istri mereka tidak mempunyai usaha sampingan untuk menambah penghasilan keluarga.



dipertik dari saduran sosiologi fisip, gundul blog 
http://fisip.uns.ac.id/blog/gundul/2010/05/29/3/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar