Share it

Rabu, 07 Desember 2011

Proposal Pemberdayaan Nelayan

Kawan,
tak ada salahnya kita memulai mengembangkan masyarakat kita, contoh dibawah ini mereka sudah memulai dari mereka, bagaimana dengan kita??
Silahkan kalau buat refernsi; http://tanjungpala.org/index.php?option=com_content&view=article&id=129:proposal-pemberdayaan-nelayan-pesisir&catid=59:pulau-laut

1 Abstrak
Dalam kunjungannya, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Ranai Kabupaten Natuna, Jum’at (17/10/06) dalam rangka Pencanangan Pemberdayaan Pulau Kecil Terluar diwilayah NKRI mengatakan ;
“Pulau-pulau kecil terluar tersebut tidaklah berarti dan merupakan bagian terluar dari Negara kita, pulau-pulau itu justru merupakan bagian beranda terdepan Negara kita.
Sebagai beranda Negara kita paling depan tentu saja kita perlu memberikan perhatian khusus krepada pulau-pulau terluar ini.
Kita perlu mengambil kebijakan yang tepat dalam upaya menjaga, memelihara dan mengembangkannya.
Kita perlu melakukan kegiatan perlindungan, pengawasan dan pemantauan secara terus menerus agar keberadaan pulau-pulau tersebut baik secara politik, social, ekonomi dan budaya terus dapat menjadi bagian Negara kesatuan republic Indonesia.”
Ini diperkuat lagi dengan telah dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) pada tanggal 29 Desember 2006 nomor 78 tahun 2005 tentang pengelolaan pulau-pulau kecil terluar.
“Semuanya itu diharapkan dapat mengoptimalkan sumber daya alam , pembangunan, infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia, pembangunan ekonomi dan social budaya serta pembangunan dibidang pertahanan dan keamanan.”
2 Latar Belakang
Walaupun menurut almarhum Prof. Dr. Nurcholis Madjid, masyarakat pesisir adalah tipe masyarakat yang elegan, demokrasi, kreatif dan pekerja keras itulah yang ia sebut istilah sebagai budaya pesisir. Disisi lain landasan etis yang seharusnya merupakan jati diri pembangunan, merupakan moral pembangunan yang selama ini telah dimiliki oleh komunitas pesisir.
Dengan kata lain kerangka etis itu menurut Prof. Dr. Dawam Rahardjo merupakan tangan gaib yang memacu dinamika dan kreativitas masyarakat seperti dalam teori pasar yang duat oleh para ahli ekonomi. (Dawam Rahardjo, 1996-68).
Namun kita jangan lupa, kejadian Sipadan-Ligitan juga merupakan kerja tangan gaib yang tak ingin melihat bagaian dari negeri ini dibiarkan begitu saja tanpa geliat pembangunan yang berakibat pada kesenjangan ekonomi antara pusat dan daerah, padahal asset dan sumber daya alam yang dimiliki daerah terluar sangat berlimpah yang hanya dimanfaatkan kepentingan sebagian pihak yang tidak pernah memikirkan dan menyentuh nasib masyarakat nelayan local.
Tentunya dengan identitasnya sebagai bagian dari pulau terluar yang ada di kabupaten Natuna dan jarak yang jauh dengan ibukota Indonesia (1.200 km) namun dekat dengan kota-kota besar Negara tetangga seperti Ho Chi Min City (800 km), Singapura (600 km) dan Bandar Seri Begawan (650 km) sudah mampu memberikan rangsangan pada kita model dan prioritas pembangunan seperti apa yang hendak dijalankan.
Tentunya yang terbaik adalah bagaimana kemudian kita memanfaatkan Capital Global (wilayah strategis, jalur perdagangan, investasi asing) untuk membentuk peradaban dan kultur local menuju masyarakat adil dan sejahtera, jangan kemudian malah seluruh Capital Local (migas, hasil laut, wisata alam dan APBD) kita gunakan untuk membentuk peradaban yang hedonis, parsial dan sekuleris. Tapi yang paling kita perlukan sekarang adalah membangun bersama masyarakat dengan tujuan akhir untuk keadilan serta kesejahteraan.
3 Statement Of Problem
  1. Tersedianya sumberdaya alam, dalam hal ini laut, belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh nelayan.
  2. Keterbatasan sarana prasarana nelayan sebagai penghambat kesejahteraan masyarakat nelayan pesisir.
  3. Kondisis nelayan saat ini ;
    • Minimnya penghasilan, karena tidak mampu bersaing dengan nelayan luar (asing; Thailand dan Vietnam) yang menggunakan sarana dan prasarana modern.
    • Minimnya pemanfaatan sumberdaya alam local, karena terbatasnya tekhnologi yang diketahui masyarakat nelayan.
    • Keterbatasan sarana dan prasarana.
4 Project Obkective
4.1 Objective
Membangun Infrastruktur, Pengadaan Sarana dan Prasarana masyarakat nelayan pesisir.
4.2 Significance
  1. Tersedianya infrastruktur untuk menunjang kegiatan masyarakat nelayan.
  2. Tersedianya sarana dan prasarana nelayan guna meningkatkan hasil tangkapan.
  3. Tersedianya sarana dan prasarana pengolahan hasil tangkapan untuk meningkatkan pendapatan.
  4. Keberlanjutan pemberdayaan dan pembangunan.
  5. Masyarakat nelayan dapat meningkatkan taraf hidup.
  6. Meminimalisasi kesenjangan social yang berdampak pada kurangnya rasa nasionalisme.
  7. Tersedianya sarana penunjang pengamanan pulau terluar
  8. Tersedianya sarana penunjang bongkar muat bahan pembangunan.
5 Project Plan
5.1 Logical Framework
Output and Activity
Indicators
Verification tools
Assumption
Output I; Identifikasi permasalahan-permasalahan masyarakat nelayan pesisir
Deteksi masalah utama
  1. Kurangnya hasil tangkapan
  2. Tidak dapat melaut pada musin bergejolak
  3. Tidak dapat mengolah hasil tangkapan
  4. Tidak dapat melakukan tangkapan secara kontinyu
  5. Tidak memiliki manegemen dalam pengelolaan kegiatan
Hasil survey lapangan serta wawancara langsung dengan masyarakat
Masih melakukan penangkapan ikan dengan cara tradisional
Output II; Perencanaan penyelesaian masalah
Penyusunan konsep, wacana dan pendampingan
  1. Pengajuan Proposal pemberdayaan masyarakat nelayan pesisir, pembangunan infrastruktur, pengadaan sarana dan prasarana nelayan; pengelolaan pulau-pulau kecil terluar
Proposal
Koordinasi dengan pihak-pihak terkait
Output III; Terbangunnya infrastruktur, tersedianya sarana dan prasarana
Pembanguanan infrastruktur
  1. Pembangunan tempat pengumpulan ikan dan pasar ikan
  2. Pembangunan pabrik es
  3. Pembangunan tempat pengelolaan hasil tangkapan nelayan
  4. Pembangunan tempat penangkaran penyu sisik
  5. Pembangunan tempat pembiakan kepiting ranjungan
  6. Pembangunan pos informasi nelayan
  7. Rambu-rambu laut
  8. Pengadaan pompong nelayan
  9. Pengadaan alat tangkap nelayan
  10. Pengadaan radar karang dan ikan
  11. Pengadaan radio ssb untuk nelayan
Survey lapangan dan kebutuhan strategis wilayah terluar
Agar tersedianya infrastruktur untuk ketahanan ekonomi dan keamanan wilayah terluar
Pengadaan sarana dan prasarana
  1. Pengadaan pompong nelayan
  2. Pengadaan alat tangkap nelayan
  3. Pengadaan radar karang dan ikan
  4. Pengadaan radio ssb untuk nelayan


Pembinaan
  1. Adanya peningkatan sumberdaya manusia masyarakat nelayan pesisir dalam penangkapan, pendapatan maupun managemen
Desa Tanjungpala Kecamatan Pulau Laut
Dengan sarana dan prasaranan yang memadai nelayan menjadi sejahtera
6 Output; Expected Outcomes and Benefits
  1. Terbangunnya infrastruktur, tersedianya sarana dan prasarana nelayan guna meningkatkan hasil tangkapan.
  2. Terbangunnya infrastruktur, tersedianya sarana dan prasarana masyarakat nelayan guna meningkatkan hasil pendapatan.
  3. Terbangunnya infrastruktur, tersedianya pelabuhan untuk kegiatan nelayan.
  4. Terbangunnya infrastruktur, tersedianya pelabuhan untuk kegiatan bongkar muat kapal barang dan perintis.
  5. Terbangunnya infrastruktur, tersedianya pelabuhan untuk kegiatan kapal perang dan kapal patrol keamanan wilayah terluar.
  6. Terbangunnya infrastruktur, tersedianya pelabuhan standart nasional.
  7. Berkembangnya sumber daya manusia masyarakat nelayan pesisir dalam mengolah hasil tangkapan
  8. Terbangunnya managemen masyarakat nelayan pesisir dalam mengolah sumberdaya alam yang dimilikinya
Tanjungpala, 08 November 2009
KEPALA DESA TANJUNGPALA

 dto
KHAIRUDDIN
NIP. 19780813200502003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar